Sunday, 5 September 2010

[FANFIC] Gomawo Hyuk Part 2

Berkat Eunhyuk, kehidupan rumah sakit yg membosankan sudah kulewati selama seminggu. Ya, hanya seminggu. Tapi Eunhyuk? Berfikir begitu, dadaku terasa sakit.

"Kamu makan sampai piringnya licin. Nafsu makanmu sudah pulih? Dan lagi... Rasanya kamu jadi ceria. Bagus itu. Waktu kamu baru masuk, matamu suram. Aku prihatin." kata suster

"Ah... Itu kau yg menggambar? Pandai ya." kata suster itu lagi sambil melihat gambar Eunhyuk yg baru saja kubuat.

"Ah... I.. Itu..." kataku terbata-bata

"Siapa? Adikmu?" jawabnya

Lho?! Benar-benar tak disadari? Itu kan Eunhyuk?! Kenapa? Apa tidak mirip ya? Padahal aku cukup bisa menggambar wajah lho...

Tidak lama kemudian, setelah suster keluar, Eunhyuk datang ke kamarku.

"Lho?! Itu aku?!" katanya sambil melihat gambarku

"Lain ya? Tadinya aku sendiri ingin menggambar dengan baik..." jelasku

"Tidak, bukan begitu..." katanya

Tiba-tiba kulihat Eunhyuk menangis...

"Payah ya! Aku tak bermaksud menangis... Tapi... Eomma... Kupikir ia akan sangat bahagia kalau ia melihat gambar ini..." lanjutnya

"Yah, kan bisa kamu perlihatkan nanti wkt dia berkunjung kan? Dia mau datang kan?" tanyaku

"Appa dan eomma datang pd hari ulang tahunku yg kelima dan membawa banyak hadiah. Tapi... Lalu..." jelasnya

Apa maksudnya? Jadi sudah bertahun-tahun orang tuanya tdk menjenguknya?!

"Ah! Bukannya mereka berdua tak peduli padaku, appa itu pengusaha yg sibuk, sering keliling dunia. Makanya dia dirikan rumah sakit ini untukku. Lalu eomma jg. Dia aktris terkenal! Dia mengirimiku bunga dan lain-lain, sampai kamarku penuh. Mereka slalu memperhatikanku. Benar kok!" jelasnya

Eunhyuk...
"Iya... Pasti begitu ya? Appa dan eomma mu pasti orang baik" ucapku meski aku tahu perkataannya barusan hanyalah untuk menghibur dirinya sendiri.

"Ya" jawabnya.

Aku melihat mata Eunhyuk mulai berkaca-kaca.

Kenapa?! Kenapa dia begitu percaya? Kenapa tak ada waktu? Apa dia tak merasa dibuang orang tuanya?

Kalau aku... Aku pasti membuang orang tua seperti itu, sebelum aku dibuang...

Kesedihan yg begitu dalam...
Dia begitu menderita karena sepi dan sendiri.

Aku janji akan memperlihatkan laut padau. Suatu saat, pasti... Laut malam hari.

*Beberapa hari kemudian*

"Waaah! Lauut! Laut yg sesungguhnya! Gomawo Donghae" kata Eunhyuk saat aku mengajaknya ke laut.

Sudah tiga hari sejak aku mengajaknya ke laut dan sejak itu ia tidak pernah menemuiku.

Ada apa ya? Jangan2 keadaannya tiba2 memburuk?! Ya ampun! Aaah... Tapi aku tak tahu kamar Eunhyuk!

Ketika aku keluar kamar, tiba2 aku bertemu suster

"Suster, beri tahu saya..." kataku

"Ah, mianhae tuan Donghae, sekarang ada pasien yg sedang mengalami masa kritis." jawabnya

"Krisis?! Eunhyuk?!" tanyaku

"Ke... Kenapa kau tahu?" ia balik bertanya

"Mianhae... Kami diam2 bertemu tiap hari. Kami berteman." jelasku

"Jangan bicara sembarangan. Itu tak mungkin!" katanya

"Suster! Eunhyuk bilang ingin bertemu dengan Donghae. Bagaimana?!" kata seorang suster yg tiba2 muncul

Aku lalu dibawa ke kamar sudut di lantai teratas. Perabotannya mewah, seolah bukan di rumah sakit.

"Itu Eunhyuk." kata suster sambil membuka pintu

Dalam kamar berselubung kaca itu Eunhyuk tertidur. Perban melilit sekujur tubuhnya.

"Eunhyuk kenapa?! Apa dia terluka?!" tanyaku

"Keadaan Eunhyuk memang begitu sejak lahir. Dia tak berkulit ari sejak lahir. Penyakit aneh yg mengerikan. Sekujur tubuhnya harus slalu dibalut perban dan menghisap udara yg mengandung kadar air tertentu, dan jg ia harus ditempatkan di ruang yg steril." jelas suster

Apa??!!! Aku tersentak mendengar penjelasan suster itu. Bagaimana bisa smua itu terjadi?!

"Donghae..." panggil Eunhyuk

"Eunhyuk" jawabku yg masih shock melihat keadaannya.

"Kamu kaget melihatku?" kata Eunhyuk

"Y... Ya. Habis... Kenapa tiap hari kau bisa ketempatku?" kataku

"Sebab gelombangnya pas. Kan aku sudah mengatakannya." katanya sambil tersenyum

Eunhyuk...

"Tapi... Sepertinya aku sudah tidak kuat. Karena itu, kuberikan mataku padamu ya Donghae." kata Eunhyuk

"Eunhyuk?! Kau tak boleh berfikir begitu! Kau harus terus hidup! Laut saja... Kau blm pergi ke laut kan?" kataku

"Sudah. Laut malam hari. Kau yg mengajakku kan Donghae?" katanya

"Tapi itu kan dalam mimpi" jawabku

"Walau itu mimpi, tapi itu adalah nyata." jelasnya

Ah...

"Kamu bilang gelombangnya pas ya?" tanyaku

"Ya." kata Eunhyuk sambil tersenyum

"Kalau bisa, aku jg mau melihat laut siang hari. Jg laut waktu fajar... Gunung, jg gedung pencakar lagit." katanya lagi

"Kau bisa..." kataku

"Tidak... Sebagai gantinya, Donghae saja yg melihatnya. Dengan mataku." ucapnya dengan lirih

"Hentikan! Jangan bicara itu!" jawabku

"Berjanjilah!" ucapnya

"... Ya... Pasti!" jawabku

"Aah... Tapi aku bertemu eomma untuk terakhir kali. Sekali lagi..." kata Eunhyuk

"Kau bisa! Sekarang dia sedang kesini dengan mobil. Makanya... makanya..." tangan Eunhyuk yg dari tadi menggenggam tanganku tiba2 terlepas

"Eunhyuk?!!!" panggilku ketika melihat matanya tertutup

"Masukkan oksigen!" suruh dokter

"Baik!" jawab suster

'Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit'
EUNHYUK?!

"Eunhyuk!" tiba2 pintu terbuka

"Eunhyuk?! Maafkan eomma... Eomma begitu jahat... Padamu... Eunhyuk!!" kata wanita yg baru masuk itu yg ternyata adalah ibu Eunhyuk.

"Terlambat! Sudah terlambat! Rumah sakit yg megah. Bunga yg memenuhi ruangan... Untuk apa itu semua? Itu cuma formalitasi?! Itu cuma menjauhi Eunhyuk! Mengurungnya disini! Tapi Eunhyuk percaya pada kalian sampai akhir hidupnya! Dia lupakan dirinya sendiri! Katanya kalian baik dan mencintainya! Dia tak pernah ragu sedikitpun!" kataku pada orang tua Eunhyuk

Dari hari ke hari tubuhnya dililit perban. Dia bahkan tak menyesali nasibnya. Hanya hati sepi yg tak terbendung. Dia berharap bisa menyelinap dari dunia yg mengurungnya.

Tanpa kusadari air mataku menetes...

*seminggu kemudian*

Sesuai wasiat Eunhyuk, aku menjalani operasi transplantasi kornea. Karena penyembuhan lancar, penutupnya bisa segera dibuka. Waktu aku sedang menantikan saat aku pulang tiba2...

"Donghae?!" panggil ibu sambil membuka pintu kamarku

"Aah... Kamu selamat?! Betapa khawatirnya eomma... Kamu tak ada di rumah saat kami pulang liburan. Walau dicari, aku tak tahu teman2mu. Akhirnya kemarin rumah sakit menelfon eomma..." eomma memelukku sambil menangis

"Eomma sadar, eomma telah menelantarkanmu eomma berusaha untuk menjadi keluarga Lee. Eomma hanya memikirkan kebahagiaan sendiri. Maafkan ibu, Donghae..." kata ibu

"Aku yg salah. Semua masalah rumah kuserahkan pada eomma." ucap appa

Apa yg sebenarnya terjadi? Sungmin...

"Tak ada yg salah pd eomma. Waktu kamu tak diketahui kabarnya, eomma terus menyalahkan dirinya. Kamu puas kan?! Kamu anak kandungnya! Beda dengan diriku!" kata Sungmin

Aaah... Jadi Sungmin selalu khawatir jika suatu saat eomma tidak peduli lagi padanya? Sungmin yg tdk pernah melihat wajah ibu kandungnya...

Aku mengerti perasaan eomma, appa dan Sungmin.

Pasti karena matamu, ya Eunhyuk...?

Gomawo Hyuk...

0 komentar:

Post a Comment

© 2011 call the doctor, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena